Laskar Banjar Borneo, KUPANG — Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Guncangan dangkal ini berpusat di kawasan laut utara Nagekeo dan memicu kerusakan cukup masif di sejumlah wilayah Pulau Flores.
Berdasarkan laporan pemutakhiran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal dunia tercatat mencapai 53 jiwa. Selain korban jiwa, ratusan warga mengalami luka-luka dan saat ini sedang dalam penanganan medis.
Sebaran Dampak dan Korban
Data sementara BNPB mencatat wilayah terparah berada di kawasan Manggarai Raya. Rincian dampak fisik dan korban mencakup:
- Korban Meninggal Dunia: Kabupaten Manggarai (25 jiwa), Manggarai Timur (20 jiwa), Sikka (4 jiwa), Ende (2 jiwa), Manggarai Barat (1 jiwa), dan Nagekeo (1 jiwa).
- Korban Luka: Sebanyak 135 warga dirawat di fasilitas kesehatan terdekat, baik akibat luka berat maupun luka ringan.
- Kerusakan Infrastruktur: Ratusan rumah warga rusak berat hingga roboh, jalur transportasi darat sempat terputus akibat tanah longsor, dan beberapa jaringan komunikasi/listrik mengalami gangguan.
Kondisi Pengungsian dan Upaya Pemulihan
Kementerian Sosial (Kemensos) bersama BNPB dan TNI/Polri terus menyalurkan bantuan logistik darurat, mulai dari tenda pengungsian, obat-obatan, selimut, hingga puluhan ton beras. Petugas gabungan dan relawan juga mendirikan dapur umum di titik-titik pengungsian utama.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ratusan kali gempa susulan pascagejolak utama. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta menghindari bangunan yang retak atau tidak stabil.
Proses pencarian, evakuasi, dan pendataan infrastruktur yang rusak masih terus dimaksimalkan oleh tim gabungan di lapangan.

